Bisa juga belajar dari Handphone


Surat Al Jaatsiyah(45) ayat 20 :

Inilah (maksudnya Al qur'an) pandangan bagi manusia dan petunjuk dan Rohmat bagi kaum yang kaum yang yakin.

Anda Punya Handphone ??? kalau handphone yang anda miliki dapet anda beli, pasti pada anda punya juga buku panduan yang didapet ketika handphone tersebut di beli. Gunanya buku panduan (manual user) itu sebagai panduan untuk mengoperasikan Handphone, sekaligus panduan untuk memperbaiki handphone tersebut jika terdapat kerusakan.

Bagaimana dengan manusia ??? Manusia bukanlah handphone, secara teknologi pembuatan (baca penciptaan) lebih kompleks dari dari handphone, dan secara fungsipun juga lebih kompleks. Tapi sama2 punya tujuan kenapa dibuat/diciptakan. Handphone di buat sebagai alat bantu untuk komunikasi. Manusia di ciptakan untuk menyembah kepada Allah (lihat surat Adz Dzariyaat-surat 51 ayat 56). Supaya Hp Tadi HP tidak rusak, maka gunakan hp seperti fungsinya, seperti tujuan pembuatannya, bagaimana? lihat petunjuknya-> Manual user. Supaya Manusia tidak rusak tetaplah pada fungsinya, bagaimana? lihat petunjuknya -> Al qur'an.

Ketika terjadi error pada HP, tanpa disuruh juga hal yang pertama dilakukan nyari-nyari solusi pasti ke buku petunjuk->manual user. kalo bingung nanya ke yang tau. Kalo manusia error mestinya juga sama, lihat ke petunjuknya->Al qur'an, kalo bingung tanya juga ke yang tau.

Nah, bisa juga kita ngambil pelajaran dari HP yang kita miliki, untuk kebaikan kita juga kan. Mudah-mudahan setiap kita inget HP, setiap kita pegang hp. bisa menjadi pengingat kita untuk kita ingat kepada diri kita. InsyaAllah, dengan kita tau fungsi kita sebagai penyembah Allah. Akan lebih mendekatkan kita kepada Allah. Amien.

Masih banyak hal di sekitar kita yang bisa kita jadi pelajaran, adanya binatang, adanya peristiwa alam seperti petir, ciptaan makhluk seperti bunglon yang sudah dibahas sebelumnya Allah yang lainnya.

Nyamuk !!!

Buat temen2 Blogger yang rajin jalan2 dan Baca2 pasti sudah baca artikelnya adeq soal nyamuk. Buat adeq yang lagi gemes ama nyamuk, sabar ya... mudah2an tulisan ini bisa ngurangin gemesnya.

Betulkah Nyamuk sebagai penghisap Darah?? Ya dan tidak, Tepatnya tidak semua nyamuk menghisap darah, Hanyalah nyamuk betina yang suka menghisap darah. dan itupun bukan karena nyamuk sebagai pemakan darah. Nyamuk betina memerlukan darah yang kaya protein untuk pertumbuhan dan perkembangan telur, untuk kelangsungan perkembangan generasi nyamuk.

Pada dasarnya nyamuk, baik jantan ataupun betina keduanya hidup dengan memakan "nectar", yakni cairan manis yang disekresikan oleh bunga tanaman (sari madu bunga)

Selain itu, sama seperti makhluk lainnya nyamuk merupakan ciptaan yang hebat sehingga Allah dalah surat Al baqaoroh ayat 26 mengatakan bahwa Allah sama sekali tidak segan membuat perumpaan seperti nyamuk. Memang kalau kita teliti lebih jauh tentang nyamuk, kehidupan nyamu sangatlah mengagumkan. Bukti yang mudah, teknologi mana yang mampu membuat benda sekecil nyamuk yang bisa terbang. Nyamuk bukan hanya bisa terbang tapi ia bisa hidup dan berkembangbiak dengan satu sistem yang semurna.

Bukti lainnya, kalau kita masuk nyamuk kedalam air pasti nyamuk itu akan mati, iya gak? lalu bagaimana bisa nyamuk hidup di luar air sementara larvanya (jentik nyamuk) hidup dalam air, pertanyaannya bagaimana bisa mereka berair dari dalam air ke udara tanpa menyebabkab kematian mereka?? Allah bisa melakukan itu, Dan hanya Allah yang tahu pasti itu terjadi, namun sekedar referensi bisa di baca di 'Nyamuk dan petualangannya'

Pelajaran lainnya tentu masih banyak yang dapat kita ambil pelajarannya, tinggal kitanya mau berfikir dan merenungkan ayat-ayat Allah, yang tertulis ataupun yang tercipta.

Mahabesar Allah, yang telah menciptakan Nyamuk dan makhluk2 lainnya termasuk kita sebagai manusia.

artikel sejenis : bunglon, kekuatan tersembunyi petir

Durian

Durian wah jarang kali yang gak suka. Kalo saya, jangan tanya, kalo dah nemu durian bisa lupa berhenti. selain mengundang selera ternyata durian juga mempunyai manfaat yang lain, ini diantaranya :
  • Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.
  • Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.
  • Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).
  • Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan. cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.

Tips ngeblog blogger mania

Buat para blogger mania yang betah berjam-jam didepan komputer Janganlah melihat monitor dengan memicingkan mata, karena memicingkan mata akan menurunkan frekuensi mata berkedip hampir 50%. Dan ini menyebabkan mata kering yang dapat menimbulkan iritasi pada mata. info selengkapnya baca di forumqta

Setiap Diri Akan Merasakan Maut

Ali imron ayat 185 (awal ayat)
Maut, Merupakan salah satu taqdir dari Allah. Maut merupakan sesuatu yang pasti datang, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita tolak kehadirannya. Dimanapun kita bersembunyi, dimanapun kita berada pada waktunya maut pasti datang.

Kapan Maut datang tidak ada yang tau, kecuali Allah. Dan Allah tidak memberitahukan kepada kita kapan Maut akan datang, mungkin sepertinya akan enak kalau kita tau kapan maut itu akan datang. Justu disitulah kasih sayang Allah kepada kita, jsutru disitulah Adilnya Allah kepada kita. Kalau kita tahu kapan Maut akan datang, bisa jadi kita akan bersantai-santai ketika dirasa maut masih lama akan datangnya, dan akan sangat mungkin kemudian itu membuat kita terlena. Tapi dengan kita tidak tau kapan maut itu akan datang, kita akan selalu bersiap-siap setiap saat. Ya tentunya itupun bagi orang yang yakin bahwa kita akan kembali kepada Allah.
Dan justru itulah yang Allah mau dengan tidak memberitahukan kapan maut itu akan datangnya, supaya kita ini senantiasa siap, senantiasa bebuat baik, senantiasa ingat kepada Allah. Buat kitanya ayo kita selalu mempersiapkan diri kita, seperti Allah juga mengingatkan kepada kita Persiapan apa yang kita bawa untuk hari esok, untuk Kehidupan Akherat.

biarkan-cinta-pergi

delete..

biarkan-cinta-pergi

delete..

Upgrade HP

Memperbaiki perilaku dengan Believe…. Atau….Iqro

Dari obrolan yang saya dengar beberapa hari yang lalu, dapat di ambil kesimpulan Bahwa kita tidak dapat memperpaiki perilaku kita ataupun perilaku orang orang lain tanpa mengubah paradigma (cara berfikir, cara pandang) diri kita atau orang yang bersangkutan. Langkah yang di tempuh untuk mengubah paradigma seserang bisa dilakukan dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang positif, pemikiran-pemikiran untuk membangkitkan motivasi sesorang. Bisa kita rasakan setelah kita mendengarkan atau menghadiri suatu pembicaraan mengenai motivasi diri, maka langsung motivasi kita naik, seakan-akan kita terlahir kembali dengan motivasi penuh. Namun dengan berlalunya waktu motivasi itu akan kembali turun, menurun untuk kemudian hilang lagi.

Contoh mudah, kalau kita mendengar pengajaran tentang Islam, Surga, tentang bagaimana kita bisa beramal sebaik-baiknya untuk bekal kita mati. Giroh kita untuk beramal jauh meningkat, Sholat jadi rajin, dalam fikiran berkumpul program-program untuk memperbaiki diri. Namun beberapa hari berselang biasanya hilang lagi tuh semangat. Iya gak? Mudah-mudahan gak. Amien.

Keadaan ini sebetulnya positif, Namun yang menjadi permasalahan sampai kapan keadaan ini akan bertahan, sampai kapan giroh atau semangat kita akan tetap terjaga, sampai kapan diri kita akan penuh dengan motivasi, yang siap untuk melakukan apa saja untuk kemajuan yang ingin dicapai? Kemudian munculah satu pemikiran lagi ‘Bahwa untuk memperbaiki perilaku seseorang kita harus mengubah paradigmanya dan untuk bisa mengubah paradigmanya maka kita harus mengubah believenya’ Believe di sini maksudnya kepercayaan, kepercayaan mengapa sesuatu itu harus dilakukan.

Beberapa hari lalu saya sempet baca artikel ketika jalan-jalan di blog tentang lemak babi (maaf saya lupa lagi link-nya dimana) ini bsia jadi contoh. Kenapa kita bisa menolak lemak babi, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan babi? Sehingga secara otomatis ketika ada makanan yang mengandung unsur itu kita bisa langsung menolaknya. Ini bisa terjadi karena paradigma tentang itu sudah menjadi believe buat diri kita.Buat orang-orang yang tidak menjadikan itu sebagai believe akan biasa-biasa saja dengan babi. Bersambung…..

Lidah Bunglon Lebih Cepat daripada Pesawat Jet Tempur

Buku-buku teks zologi menjelaskan bahwa lidah balistik bunglon diperkuat oleh seutas otot pemercepat (akselerator). Otot ini memanjang ketika menekan ke bawah pada tulang lidah, yang berupa tulang rawan kaku di tengah lidah, yang membungkusnya. Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang telah disetujui untuk diterbitkan oleh majalah ilmiah Proceedings of the Royal Society of London (Series B), dua ahli morfologi yang memelajari kebiasaan makan bunglon menemukan unsur-unsur lain yang terkait dengan gerakan cepat lidah binatang ini.

Kedua peneliti Belanda ini, Jurriaan de Groot dari Universitas Leiden, dan Johan van Leeuwen dari Universitas Wageningen, mengambil film-film sinar X berkecepatan tinggi, yakni 500 bingkai per detik, dalam rangka menyelidiki bagaimana lidah bunglon bekerja ketika menangkap mangsa. Film-film ini menunjukkan bahwa ujung lidah bunglon mengalami percepatan 50 g (g = konstanta gravitasi). Percepatan ini lima kali lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh sebuah jet tempur.Para peneliti ini membedah jaringan lidah dan menemukan bahwa otot pemercepat sama sekali tidak cukup kuat untuk menghasilkan gaya yang diperlukan ini sendirian. Dengan meneliti lidah bunglon, mereka menemukan keberadaan sedikitnya 10 bungkus licin, yang hingga saat itu belum diketahui, di antara otot pemercepat dan tulang lidah. Bungkus-bungkus ini, yang melekat ke tulang lidah di ujungnya yang terdekat dengan mulut, teramati mengandung serat-serat protein berajutan spiral. Serat-serat ini memadat dan berubah bentuk ketika otot pemercepat mengerut dan menyimpan tenaga bagaikan seutas pita karet yang tertekan. Ketika mencapai ujung bulat tulang lidah, bungkus-bungkus yang ketat dan memanjang ini secara bersamaan menggelincir dan mengerut dengan kekuatan dan melontarkan lidah. Secepat serat-serat ini menggelincir dari tulang lidah, bungkus-bungkus saling memisahkan diri bagaikan tabung-tabung sebuah teleskop, dan karena itu lidah mencapai jangkauan terjauhnya. Van Leeuwen berkata, “ini adalah ketapel teleskopis.” Ketapel ini memiliki ciri lain yang amat menyolok. Ujung lidah mengambil bentuk hampa pada saat menghantam mangsa. Ketika terlontar, lidah ini dapat menjulur sejauh enam kali panjangnya ketika istirahat di dalam mulut, dan dua kali panjang tubuhnya sendiri. Jelaslah bahwa bungkus-bungkus yang saling terhubung pada lidah bunglon ini tidak pernah dapat dijelaskan menurut evolusi. Dalam wacana itu, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Bagaimanakah masing-masing bungkus ini berevolusi ke tempatnya yang benar?

Bagaimanakah lidah tumbuh sedemikian panjang?

Bagaimanakah otot pemercepat muncul?

Bagaimanakah bungkus-bungkus menyelaraskan gerak-geriknya sehingga membuat lidah mencapai panjang maksimumnya?

Bagaimanakah bungkus-bungkus menumbuhkan kemampuan untuk “memanjangkan diri bak tabung-tabung teleskop”?

Bagaimanakah binatang tersebut menyatukan semua bagian ini setelah “meluncurkan” lidah?

Jika lidah ini diperoleh sebagai sifat menguntungkan akibat proses evolusi, lalu mengapa sifat unggul ini tidak berkembang pada binatang-binatang lain dan mengapa binatang-binatang lain tidak memiliki cara berburu yang sama?

Bagaimanakah bunglon (atau binatang yang dianggap moyang peralihannya) dapat bertahan hidup ketika semua sistem yang rumit ini diduga pelan-pelan berevolusi?

Seorang evolusionis tidak akan memiliki jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini. Gambar di sebelah kiri, sebuah lukisan yang mewakili penampang melintang lidah bunglon, menyingkapkan bahwa sistem sempurna ini bergantung pada penciptaan yang amat khusus. Kelompok-kelompok otot dengan sifat-sifat yang berbeda secara tanpa cela melontarkan lidah, memercepatnya, menyebabkan lidah mengambil bentuk isap ketika menghantam mangsanya dan lalu cepat-cepat menariknya. Kelompok-kelompok otot ini sama sekali tidak saling menghalangi fungsi masing-masing, namun bekerja dengan cara yang terselaraskan dalam menghantam mangsa dan menarik lidah kembali ke mulut dalam waktu kurang dari sedetik. Tambahan lagi, berkat kerjasama antara sistem penglihatan dan otak, kedudukan mangsa diukur dan perintah bagi lidah balistik untuk “menembak!” diberikan oleh syaraf yang mengirimkan isyarat di dalam otak. Sudah pasti, bunglon tidak dapat memikirkan dan merancang sendiri rancangan yang demikian rumit itu. Penciptaan ini menyingkapkan keberadaan Allah, Sang Mahatahu dan Mahakuasa. Tidak ada keraguan bahwa Allahlah, Yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahabijaksana, Yang menciptakan bunglon.

artikel sejenis : Nyamuk | keajaiban di balik petir

Kekuatan Tersembunyi Petir

Satu kilatan petir menghasilkan listrik lebih besar daripada yang dihasilkan Amerika.

Di malam hari, saat hujan deras, langit tiba-tiba menyala, tak lama kemudian disusul oleh suara menggelegar. Tahukah Anda bagaimanakah petir luar biasa yang menerangi langit muncul? Tahukah Anda seberapa banyak cahaya yang dipancarkannya? Atau seberapa besar panas yang dilepaskannya?

Satu kilatan petir adalah cahaya terang yang terbentuk selama pelepasan listrik di atmosfer saat hujan badai. Petir dapat terjadi ketika tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer – masih dalam satu awan, atau antara awan dan permukaan tanah, atau antara dua permukaan tanah – mencapai tingkat tinggi.

Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif (-) mengalir dari awan ke permukaan tanah. Ini bukanlah kilatan yang sangat terang. Sejumlah kilat percabangan biasanya dapat terlihat menyebar keluar dari jalur kilat utama. Ketika sambaran pertama ini mencapai permukaan tanah, sebuah muatan berlawanan terbentuk pada titik yang akan disambarnya dan arus kilat kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama tersebut langsung menuju awan. Dua kilat tersebut biasanya beradu sekitar 50 meter di atas permukaan tanah. Arus pendek terbentuk di titik pertemuan antara awan dan permukaan tanah tersebut, dan hasilnya sebuah arus listrik yang sangat kuat dan terang mengalir dari dalam jalur kilat utama itu menuju awan. Perbedaan tegangan pada aliran listrik antara awan dan permukaan tanah ini melebihi beberapa juta volt.

Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik di Amerika. Suhu pada jalur di mana petir terbentuk dapat mencapai 10.000 derajat Celcius. Suhu di dalam tanur untuk meleburkan besi adalah antara 1.050 dan 1.100 derajat Celcius. Panas yang dihasilkan oleh sambaran petir terkecil dapat mencapai 10 kali lipatnya. Panas yang luar biasa ini berarti bahwa petir dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di muka bumi. Perbandingan lainnya, suhu permukaan matahari tingginya 700.000 derajat Celcius. Dengan kata lain, suhu petir adalah 1/70 dari suhu permukaan matahari. Cahaya yang dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta bola lampu pijar berdaya 100 watt. Sebagai pembanding, satu kilatan petir menyinari sekelilinginya secara lebih terang dibandingkan ketika satu lampu pijar dinyalakan di setiap rumah di Istanbul. Allah mengarahkan perhatian pada kilauan luar biasa dari petir ini dalam Qur'an,

"...Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS. An Nuur, 24:43)

Kilatan yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam. Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20 milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju ke awan dalam tempo 70 mikrodetik. Secara keseluruhan petir berlangsung dalam waktu hingga setengah detik. Suara guruh yang mengikutinya disebabkan oleh pemanasan mendadak dari udara di sekitar jalur petir. Akibatnya, udara tersebut memuai dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, meskipun gelombang kejutnya kembali ke gelombang suara normal dalam rentang beberapa meter. Gelombang suara terbentuk mengikuti udara atmosfer dan bentuk permukaan setelahnya. Itulah alasan terjadinya guntur dan petir yang susul-menyusul.

Saat kita merenungi semua perihal petir ini, kita dapat memahami bahwa peristiwa alam ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana sebuah kekuatan luar biasa semacam itu muncul dari partikel bermuatan positif dan negatif, yang tak terlihat oleh mata telanjang, menunjukkan bahwa petir diciptakan dengan sengaja. Lebih jauh lagi, kenyataan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari kekuatan ini, sekali lagi membuktikan bahwa petir diciptakan dengan kearifan khusus. Allah secara khusus menarik perhatian kita pada petir ini dalam Al Qur'an. Arti surat Ar Ra’d, salah satu surat Al Qur'an, sesungguhnya adalah "Guruh". Dalam ayat-ayat tentang petir Allah berfirman bahwa Dia menghadirkan petir pada manusia sebagai sumber rasa takut dan harapan.

Allah juga berfirman bahwa guruh yang muncul saat petir menyambar bertasbih memujiNya. Allah telah menciptakan sejumlah tanda-tanda bagi kita pada petir. Kita wajib berpikir dan bersyukur bahwa guruh, yang mungkin belum pernah dipikirkan banyak orang seteliti ini dan yang menimbulkan perasaan takut dan pengharapan dalam diri manusia, adalah sebuah sarana yang dengannya rasa takut kepada Allah semakin bertambah dan yang dikirim olehNya untuk tujuan tertentu sebagaimana yang Dia kehendaki.

artikel sejenis : Nyamuk, bunglon

sumber : www.harunyahya.com

biarkan-cinta-pergi

Artikel telah di hapus..

biarkan-cinta-pergi

Artikel telah di hapus..

biarkan-cinta-pergi

Artikel telah di hapus..

Jujur saja

Sekelumit kisah dalam Pencarianku


Malam kembali hadir…..
Masih seperti kemarin..mataku tak mau terpejam.
Walau kantuk sudah di ujung mata
Namun hatiku masih belum mau berhenti berkelana
Membelah waktu menembus lorong ke masa lalu

Sebentar aku tersenyum...sebentar aku termenung
Bukan..bukan karena aku mulai sedikit gila
Walau memang banyak kegilaan yang kualami
Hatiku tetap terjaga untuk tidak terbawa gila
InsyaAllah.....

Teman ingatkah kau
Waktu kita telusuri kota cimahi selalu berdua
Gang demi gang kita telusuri
Dengan gerobak yang kadang berisi pasir kadang berisi sprit
Teman ingatkah waktu kita menjadi tertawaan orang
Ketika kita memaksakan mengambil jalan pintas menurun
Dan ternyata kita tak bisa menahan gerobak kita terjatuh...

Teman masihkah juga kau ingat
Waktu kembali kita telusuri sepanjang jalan sarijadi
Kali itu tumpukan dus berisi agar-agar yang kita jual
Sedikit kurma juga kita bawa waktu itu

Teman....
Masihkah kau ingat semua......
Ketika kita berjualan pakaian di stasiun...
Ketika kita berjualan makanan di pusdai
Ketika kita berjualan ayam dipasar soreang.....
Ketika kita berjualan kerupuk dirancaekek....
Dan banyak lagi hal yang kita jalani bersama....

Tidak....waktu itupun aku tidak gila
Walau orang-orang berfikir aku tidak waras.
Bahkan keluargaku juga kecewa waktu itu
Ketika aku memilih dunia itu
Ketika aku tinggalkan kerja kantoranku
Ketika aku tinggalkan bangku kuliaku
Sekali lagi aku tidak gila
Karena justru disitulah aku menemukan ketenangan
Karena disitulah aku menemukan kedamaian

Teman....sekarang aku jauh disini
Hanya bisa mengingatmu....
Mengingat guru kita....
Yah aku rindu sekali dengan beliau
Apakah beliau juga merindukanku...murid kesayangannya.
Ehmm...ya sekaligus murid yang bandel juga
Teman dimamapun kau kau berada
Tetaplah selalu mengingatku
Yakinkan aku untuk kembali bersamamu
Bersama orang-orang yang kucintai....
.............

Sebuah Pencarian

Hidup mungkin memang begitu, berawal dari sebuah pencarian dan kembali lagi pada sebuah pencarian. Atau mungkin itu hanya terjadi dalam hidupku saja. Semuanya seperti lingkaran setan, berputar dari satu pencarian ke pencarian yang lain. Walau aku terkadang merasa lelah, namun aku merasa aku masih harus mencari dan terus mencari. Entah sampai kapan....Untuk saat ini aku tidak tau kapan aku akan berhenti.. yang pasti semuanya akan berhenti ketika napas terakhir sudah aku hembuskan.

Seperti saat ini,, hanya karena merasa akan suatu sesuatu baru yang bisa aku dapat, aku pun akhirnya menginjakan kaki ku di tanah makassar ini, juga untuk sebuah pencarian. Sama seperti ketika aku pertama kali meninggalkan rumah untuk mengawali sebuah pencarian.

Mungkin buat sebagian orang berfikir bahwa yang terpenting dari sebuah pencarian bukanlah hasil yang didapat, tapi nilai ilmu dan pengalaman dari perjalanan itu sendiri yang terpenting. Namun buatku yang terpenting adalah Hasil, dan ujung dimana nantinya pencarian ini berakhir, yaitu ketika maut akan menghentikan penjalananku. Bukan berarti nilai ilmu dan pengalaman aku abaikan, tapi biarlah itu hanya sebagai sampingan yang aku dapat. Dan tentunya itu akan di dapat bagi orang-orang yang berfikir. (orang-orang yang ’qulubun yaqiluna biha’, orang-orang yang qulubnya berfikir).

Dimana ujung pencarianku berada, mungkin itu masih menjadi sebuah mistey bagiku, dan itupun akan menjadi sebuah mistey juga buat semua orang. Tapi pencayalah Allah tidak pernah mendzolimi hambaNya. Apa yang kita kerjakan, apa yang kita buat, apa yang kita cari, itu semua akan mendekatkan kita kepada takdir kita. Kalau Harta, kekuasan, kepuasan yang kita cari, maka kita hars berhati-hati karena itu akan mendekatkan kita kepada takdir yang tidak baik. Jangan-jangan takdir kita akan seperti sa’labah yang menjadi kufur karena pencarian yang salah, pencarian kepada harta, pencarian pada kesenangan dunia.

Bukan maksudku untuk mendahulu takdir Allah. Tapi disitulah kita bisa berbuat, kita bisa berfikir. Kita tidak bisa mencampuri keputusan Allah akan takdir kita, tapi dalam proses itulah kita berbuat, seperti juga Allah memerintahkan kita untuk mencari. Mencari sebagaimana juga rosul kita dan para sahabat telah melakukan pencarian. Dan mereka telah mencontohkan kepada kita bahwa pencarian mereka berujung pada tempat yang baik. Surga Allah. Apa yang mereka cari, itulah yang merstinya juga kita cari. (al-path ayat 29)


Buat siapapun yang sedang dalam sebuah pencarian, janganlah berhenti, jangan pernah merasa lelah, teruslah mencari dan temukan apa yang dicari. Temukan keridhoan dari Allah, temukan kelebihan dari Allah. Carilah itu sebagaimana juga Rosul dan orang-orang yang bersamanya mencari kelebihan dari Allah mencari keridhoan dari Allah. InsyaAllah kita termasuk orang-orang yang ma’ahu. Orang yang bersama-sama dengan Rosul.Amien.

Untuk Sahabat….

Hari ke hari waktu terus berlalu
Siang berganti malam dan malampun berganti pagi
Dengan cerita yang juga terus berganti

Hanya satu yang tak pernah berubah
Hanya satu yang tak pernah berganti
..............

Ceritamu takkan hilang oleh waktu
Takkan terbawa oleh masa yang berlalu
Karena kau hidup bukan dalam waktu
Karena kau hidup bukan dalam ruang
Tapi.... kau hidup dalam hati

Sahabat....
Kepergian bukanlah perpisahaan
Dan kepergian bukanlah kehilangan
Karena hati tak mengenal ruang
Karena hati tak mengenal waktu
...............

’buat emhi semoga sukses di tempat yang baru’

Jangan salah menyahut..!

Seharian di depan komputer suntuk juga. Mikir-mikir posting mau nulis apa? …… dari mikir malah jadi ngelamun.. Teringat dulu waktu masih di kelas dua SMU. Dalam satu kelas ada tiga orang yang namaya sama. Kita selalu kebingungan kalau guru manggil tanpa diikuti nama lengkap soalnya kita juga duduk berdekatan. Ya dah bukannya nyahut kita malah saling pandang, apalagi kalo yang manggil guru fisika, jangan samapai saya yang dimaksud?!. Eh malah ngelantur.. Tapi ngomong-ngomong soal memanggil Allah juga sering memanggil Hambanya dengan panggilan 'Hai orang-orang yang beriman' tanpa menunjuk langsung orangnya dan jumlah manusia di bumi jumlahnya bukan sepuluh atau dua pulu orang. Apa mungkin kita juga salah menyahut. Allah berkata kepada orang yang beriman, Allah menyeru kepada orang yang beriman, Allah memberi kabar baik kepada orang yang beriman. Kita main angguk-angguk kepada aja. Saking senangnya dengan kabar gembira dari Allah kita ucapkan Alhamdulillah. Ehm…. Mungkin gak ya.. kita salah menyahut..? Yang Allah maksud orang beriman, yang Allah panggil orang beriman tidak termasuk kita didalamnya. Ah tapi kita kan islam, kita kan sholat…..apa cukup ya? Alqur’an itu kan ada kurang lebih 6 ribuan ayat lebih, suratnya 114 surat. Perintah dan larangannya banyak. Apa cukup untuk merasa yakin disebut orang beriman?........ Ah dari pada bertanya-tanya kenapa tidak kita ambil yang maksimal. Jadi orang islam yang terbaik, jadi orang beriman yang terbaik. Dengan sekuasa-kuasanya menjadikan semua perintah Allah, menjalankan semua keinginan Allah tanpa memilih-milih.'Hai orang beriman masuklah kepada islam secara kaffah' (tidak sedetangan-setangah, tidak meilih-milih). Mari, jangan pernah bosan kita sama-sama memperbaiki keislaman kita terus.

Jangan Terpikat Dengan Dunia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)
Bacalah berulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut maknanya… Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia? Masihkah dunia membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? Masihkah engkau tertipu dengan kesenangannya?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia1. Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”
Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para penanamnya, yang cita-cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali kepada keadaannya semula, seakan-akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” (Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)
Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”
Adapun dalam perbuatan, beliau radhiyallahu ‘anhuma merupakan shahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)
Ibnu Baththal rahimahullahu menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, “Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke tempat akhirnya.” (Fathul Bari, 11/282)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata memberikan penjelasan terhadap hadits ini, “Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada keluarganya.” (Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟
Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah2.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:
ادْعُ اللهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّوْمَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لاَ يَعْبُدُوْنَ اللهَ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia3?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)
Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia.
Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Mereka yang tertipu dengan dunia.
2 Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
فَابْتَدَرَتْ عَيْنَايَ. قَالَ: مَا يُبْكِيْكَ، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَمَا لِي لاَ أَبْكِي وَهَذَا الْحَصِيْرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِكَ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ لاَ أَرَى فِيْهَا إِلاَّ مَا أَرَى، وَذَاكَ قَيْصَرُ وَكِسْرَى فِي الثِّمَارِ وَاْلأَنْهَارِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ وَصَفْوَتُهُ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ
“Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, –pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”
3 Adapun di akhirat kelak, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ
“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (Al-Ahqaf: 20)

sumber : www.asysyariah.com

Belajar,,,,sebuah pintu

Semua manusia terlahir hampir dalam keadaan sama. Kecuali lingkungan yang berbeda. Ada yang lahir dari lingkungan keluarga kaya, ada yang terlahir dari lingkungan keluarga miskin, lingkungan terpelajar, pemusik dan lain sebagainya. Kita yang terlahir dari pemusik pada waktu terlahir tidak juga langsung pandai bernyanyi, begitu juga kita yang terlahir yang terlahir dari seorang profesor tidak juga bisa langsung pintar matematika atau fisika.

Setelah kita tumbuh dari masing-masing kita ada yang kemudian jadi pemusik, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi guru, ada juga yang ngerasa gak jadi apa-apa. Ini semua takdir tentunya dari Allah. Tapi disini sekarang saya bukan mau membicarakan takdir tapi mau membicarakan proses. Karena disitulah kita bisa mengevaluasi kalau msalah takdir itu haknya Allah, gak bisa ditawar.

Seorang anak profesor tentunya tidak begitu saja, menjadi seorang ahli fisika atau ahli lainnya, begitu juga seorang anak artis tidak juga bisa begitu jadi jago beracting. Bahkan teryata banyak juga anak petani yang jadi orang sukses. Kenapa??

Pernahkan kita berfikir, Bahwa kita mampu melakukan apa yang kita mau selalu diawal dengan cara yang sama yaitu Belajar. Lalu pernahkan kita berfikir bahwa sesuatu yang tidak bisa kita lakukan saat ini, nantinya juga akan bisa kita lakukan dengan cara yang sama. Belajar. Rasanya saya tidak perlu mengadakan survei untuk meyakinkan bahwa semakin kita banyak belajar semakin juga banyak yang bisa kita lakukan., semakin banyak yang kita tau.

Tidak ada yang tidak mungkin dengan belajar (tidak dalam konteks takdir). Dan pernahkan kita berfikir semakin kita malas belajar, semakin banya kita ketinggalan. Marilah kita ingatkan diri kita untuk selalu belajar. Belajar bisa dengan bertanya, Belajar bisa dengan cara membaca, mendengar, melihat. Temukan metode terbaik untuk kita belajar. Mungkin berbeda untuk setiap orang.

Sukses, buat semuanya.

Waspadai "Virus" Resolusi Komputer

ANDA perlu berhati-hati jika sering sakit kepala, mata terasa panas dan kering, dan sakit punggung, saat berada di depan komputer. Bisa jadi, hal itu merupakan gejala computer vision syndrome (CVS). CVS adalah keluhan-keluhan atau gejala pada mata, kepala, dan tulang punggung yang disebabkan oleh efek penyinaran pada aktivitas komputer, televisi, playstation, videogame.

Menurut dr. Susanti N. Sirait, Sp.M., M.Kes., selain gejala-gejala tersebut, gejala lain yang sering muncul adalah penglihatan buram, sering merasa ngantuk, adanya sensitivitas karena silau, mata menjadi sangat berair, rasa tidak nyaman dengan komputer, sakit punggung, sakit leher, kekakuan pada otot-otot bahu atas dan lengan atas, serta kehilangan keseimbangan. "Itu karena pemakaian komputer empat sampai enam jam setiap harinya," tuturnya.

Bahkan, bila keadaan ekstrem, akan disertai rasa lesu pada keadaan umum, mual, dan kelelahan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan masuk dalam era komputerisasi, tak dapat dimungkiri bahwa semua itu juga menimbulkan dampak yang buruk. Contohnya saja CVS, yang merupakan istilah baru bagi masyarakat. "Gejala ini sudah lama ada, tapi banyak masyarakat yang tidak menyadari kalau itu merupakan gejala CVS. Kebanyakan, orang menganggap itu karena radiasi yang ditimbulkan oleh komputer. Padahal, tak ada kaitannya dengan radiasi, tapi karena resolusi (tingkat ketajaman gambar-red.)," ucapnya.

Menurut Susanti, banyak orang merasa kondisi-kondisi tersebut merupakan gejala minus atau plus pada mata. Padahal, hal itu merupakan kelelahan pada mata yang diakibatkan menurunnya daya akomodasi pada mata.

Sudut pandangan ke komputer yang tidak pas, bagian atas layar komputer yang tidak sejajar dengan mata, tidak sesuainya tingkat terang gelap layar, dan biasanya ada pantulan yang menyilaukan dari sumber cahaya lain, merupakan hal lain yang juga mengontribusi adanya CVS.

Tak hanya itu, menurut Susanti, lingkungan kerja juga dapat memicu gejala CVS. Misalnya, posisi layar komputer yang terlalu tinggi, kursi kerja yang tidak ergonomis (desain suatu produk yang disesuaikan dengan ortopedi tubuh), bisa memunculkan gejala CVS.

Kebiasaan yang sering dilakukan oleh pengguna komputer adalah jika layar komputer terlalu tinggi, subjek harus mendongakkan kepala, guna mendapatkan sudut pandang yang nyaman. Sebaliknya, jika layar komputer terlalu rendah, mengharuskan kepala dan leher lebih fleksibel. Hal ini menyebabkan sakit kepala dan punggung, juga menyebabkan problem pada pergelangan tangan. "Letak layar komputer yang baik adalah 10 derajat di bawah sudut pandang mata," ujarnya.

Menurut Susanti, apabila pekerjaan mengharuskan untuk selalu berinteraksi dengan komputer setiap harinya, dapat dilakukan terapi ringan. Misalnya, dengan membebaskan mata untuk melihat sesuatu yang jauh. Bisa juga melihat benda yang berwarna hijau (tanaman). "Istirahatkan mata dengan memejamkan mata sambil rileks kurang lebih 5 menit setiap 1 jam sekali, saat berinteraksi dengan komputer," tuturnya

Terapi lain, minum air putih yang banyak. Hal itu untuk membantu tubuh agar tidak kekurangan cairan, sehingga ada cukup persediaan air yang memudahkan tubuh menghasilkan air mata, dan menjaga agar mata tidak kering. (Wilujeng Kharisma)***


sumber Pikiran Rakyat

Angkuh...

Saat ku tatap langit

Khayalku terbang tinggi hendak menembusnya

Walau ku terjatuh lemah tak kuasa

Tak juga khayalku tunduk menyerah

Saat malam datang membawa bintang

Khayalku terbang tinggi hendak merengkuhnya

Walau ku tau itu tak mungkin

Hatiku tak juga berhenti tuk bermimpi

Kini malam tlah berganti pagi

Ku terbangun dengan mimpi yang sama

Mimpi yang slalu erat ku genggam

Dunia....Aku akan menundukanmu!!

Malam ini....Langit nampak hitam tanpa bintang

Namun tak bosan aku memandanginya

Karena disitulah aku melihat lukisan mimpi-mimpiku

Karena disitulah aku melihat keangkuhanku

Keangkuhan yang akhirnya menyerah tak berdaya

Menyerah pada kuasaMu....pada takdirMu

Menyerah pada ketidakberdayaanku

Sudahkah kita mengerti yang kita ucapkan

Ribuan kata setiap hari kita keluarkan dari mulut kita. Puluhan atau mungkin ratusan pemikiran yang keluar dari otak kita. Namun pernahkan kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengertikah kita dengan perkataan kita sendiri, Mengertikah kita dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri, atau sudahkan apa yang kita kerjakan sejalan dengan apa yang kita katakan dan kita pahami.

’Bismillah’ sebuah kalimat pendek dengan makna mendalam, namun bisa juga seperti tidak bermakna apa-apa ketika kalimat itu dengan refleks keluar begitu saja ketika kita akan melakukan sebuah pekerjaan. Mau bepergian misalnya atau mau makan. Berawal dari sebuah pemahaman yang tertanam dalam qulub akan memberikan makna terhadap apa yang kita ucapkan dan kita kerjakan. Sebuah pemahaman yang berlandaskan kepada ilmu.

`Bismillah` dengan nama Allah, Suatu pekerjaan di awali dengan `bismillah` artinya kita lakukan perkerjaan tadi dengan nama Allah atau dengan kata lain Atas Nama Allah atau dengan kata lain Karena Allah lah kita lakukan pekerjaan tersebut. Pertanyaannya adalah sudah sejalankah perbuatan dengan ucapan kita. Ketika kita mengucapkan `Bismillah` untuk mengawali pekerjaan apakah yang kita kerjakan juga telah sesuai dengan keinginan Allah, sudah sesuaikah dengan aturan Allah. Pantaskah kita bepergian dengan menyebut `bismillah` artinya kita pergi karena Allah tetapi pada prakteknya kita pergi keluar rumah bukan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang diperintahkan Oleh Allah. Ironis sekali kita pergi berharap mendapat keridhoan dari Allah. Tapi apa yang kita kerjakan bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, lebih ironis lagi kalau ada hal yang kita kerjakan dalam bepergian sesuatu yang sama sekali tidak di ridhoi Allah. Sesuatu yang tidak disukai Allah. Dan kalau mau jujur seringnya kita keluar rumah karena keinginan kita, bukan karena memang diperintahkan Allah atau untuk menjalankan perintah Allah. Contoh lain ketika kita akam makan kita juga ucapkan `Bismillah` pertayaan yang sama, apakah kita makan kerena perintah Allah atau kita makan karena perut laper, apakah yang kita makan diridhoi Allah, sudahkan uang yang dipergunakan untuk membeli makanan didapat dari yang diridhoi Allah. Atau jangan-jangan kita tidak pernah terpikirkan bagaimana konsep makan dalam pandangan Allah. Ini baru sample kecil untuk mengukur sejauh mana apa yang kita kerjakan ini dengan suatu kepahaman. Tentulah jangan pernah bosan Belajar, sebagaimana Allah juga tidak pernah bosan mengulang Kalam `bismillah` dalam setiap awal surat. Sebagaimana Allah tidak pernah bosan mengajarkan, mengingatkan Hambanya. Luruskan pemahaman kita dengan mendasari semua yang kita kerjakan dengan Ilmu. Semoga apa yang kita kerjakan kedepan lebih baik lagi dan semakin baik lagi.

Satu Kerinduanku

Hujan yang turun sejak sore tadi

Tak mampu mengusir panas dikamarku

Tubuh yang belum terbiasa dengan udara makasar

Memaksa mataku untuk terus terjaga

Mengantar Hatiku mengembara memutar waktu

Dan kini aku mengingatmu

Aku merindukanmu......

Merindukan masa-masa dulu kita bersama

Berbagi cerita...suka dan duka

Taukah kau.....kesedihaku bila mengingatmu

Apakah kau rasakan juga kerinduan yang sama

Kerinduan yang selalu memojokanku pada akhirya

Yang melemahkanku dalam perjalanan ini

Karena kesabaran yang semakin menipis

Tersapu oleh suaramu.....tawamu....

Sahabat....akankah kita bertemu lagi

Akankah kita bersama lagi

Menyerukan Islam...Meninggikan kalam Allah

Kembali PadaMu

Ya Allah sudahkah kau hapus dosa-dosaku
Yang mengisi lembaran hitam masa laluku
Kesombonganku akan kuasamu
Pengingkaranku akan ayat-ayatmu

Gelisahku tak juga berakhir
Dalam pencarianku akan cahayamu
Dalam pencarianku akan cintamu
Ditengah ketakutanku akan azabmu

Ya Allah kini kucari Ridhamu
Dalam bimbingan cahayamu yang mulia
Kan kuikuti petunjukmu
Menjalani hidup sampai akhir perjalanan

Ya Allah jagalah CintaMu selalu dihatiku
Jagalah Setiaku hanya untukMu
Jagalah pembelaanku hanya kepadaMu
MeninggikanMu dan MembesarkaMu
Dengan semua kehinaanku
Dengan semua kerapuhanku